Friday, October 2, 2015

PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH (USIA 11 – 14 TAHUN)

·   0

PENDIDIKAN ANAK METODE RASULULLAH (USIA 11 – 14 TAHUN)

Perintah Memberi Makan dan Pakaian kepada Anak

Ubadah bin Al Walid berkata, Rasulullah bersabda, “…Berilah mereka makan dari apa yang kalian makan dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai…”[1]

Menyuruh Anak Segera Tidur Setelah Isya’
READ MORE

Rasulullah dan para sahabatnya mengakhirkan shalat isya’. Karena itu, Umar memerintahkan agar anak-anak dan istrinya menunaikannya pada awal waktu supaya mereka segera tidur, Umar pergi menemui Rasulullah, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, marilah kita shalat, kaum wanita dan anak-anak telah tidur.” Rasulullah pun keluar rumah, sedangkan dari kepala beliau menetes air bekas wadhunya. Beliau bersabda, “Seandainya tidak memberatkan umatku atau manusia, aku pasti memerintahkan mereka agar shalat (isya’) pada waktu sekarang ini.”[2]

Melarang Tidur Telungkup

Ayah Ya’isy bin Thakhfah Al Ghifari berkata, “Ketika saya sedang berbaring tertelungkup di dalam masjid, tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan tubuhku dengan kakinya, seraya berkata, ‘Ini adalah cara tidurnya orang yang murkai Allah (ahli neraka).’ Ketika aku menoleh, ternyata orang itu adalah Rasulullah.”[3]

Memisahkan Tempat Tidur Anak Sejak Usia 10 Tahun

Rasulullah bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian mengerjakan shalat bila telah menginjak usia 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka….”[4]

Membiasakan Anak Menundukkan Pandangan dan Memelihara Aurat

Al Fadhl bin Abbas bercerita, “Ketika aku sedang dibonceng di belakang Rasulullah dari Muzdalifah ke Mina, tiba-tiba muncul seorang Arab badui yang membonceng anak perempuannya yang cantik. Kendaraannya berjalan bersebelahan dengan unta yang kendarai oleh Rasulullah. Waktu itu aku memandang anak perempuannya. Rasulullah pun memandang ke arahku dan memalingkan wajahku dari anak perempuan itu. Akan tetapi, aku memandangnya lagi dan beliau memalingkan wajahku lagi. Beliau melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali karena aku memandanginya terus, sedangkan beliau terus mengucapkan talbiyah-nya hingga selesai dari melempar jumrah Aqabah.”[5]

Rasulullah Tidak Pernah Memukul Anak, Tapi Beliau Menjelaskan Aturan Memukul dan Bahaya Pemukulan

Abu Umamah menjelaskan bahwa Rasulullah pernah menerima dua anak. Beliau memberikan salah seorang dari keduanya kepada Ali. Beliau berpesan, “Jangan pukul dia karena aku melarang memukul orang yang shalat dan aku melihatnya mengerjakan shalat sejak kami terima.”[6]

Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap istri maupun pelayannya, kecuali bila berjihad di jalan Allah.”[7] Rasulullah juga bersabda, “Seorang yang kuat bukanlah orang yang dapat membanting orang lain. Tetapi, orang yang kuat ialah yang mampu mengendalikan dirinya saat sedang marah.”[8]

Hentikan Pemukulan Bila Anak Meminta Tolong Kepada Allah

Rasulullah bersabda, “Orang yang meminta perlindungan kepada kalian atas nama Allah maka lindungilah dan siapa yang meminta kepada kalian dengan nama Allah maka berilah.”[9]

Al Mubarakfuri mengatakan, “Ath-Thayyibi berkata, ‘Itu bila pukulan untuk pengajaran. Adapun bila itu untuk hukuman had (hukuman), maka tidak boleh dihentikan. Demikian pula jika ia meminta perlindungan kepada Allah hanya untuk menipu’.”[10]

Jangan Pukul Bagian Sensitif dan Jangan Emosi

Seorang lelaki yang mabuk atau harus menjalani hukuman had minum khamr dihadapkan kepada khalifah Ali. Sahabat Ali berkata, “Deralah ia dan berikanlah kepada setiap anggota tubuhnya bagian yang hendak diterimanya. Tapi, hidarilah wajah dan kemaluannya.”[11] Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian memukul, maka hindarilah bagian wajah.”[12]

Rasulullah juga pernah berpesan secara berulang kepada lelaki badui saat ia mengatakan, “Berpesanlah kepadaku!” Rasulullah menjawab, “Kamu jangan suka marah.” Lelaki itu berkata, “Setelah kurenungkan apa yang dipesankan Rasulullah, ternyata aku menyadari bahwa sikap marah menghimpun semua keburukan.”[13]

Menghukum Anak dengan Cara Halus dan Lembut

Abdullah bin Busr Al Mazini berkata, “Ibuku mengutusku untuk mengantarkan setangkai anggur kepada Rasulullah. Namun, aku memakannya sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku tiba di tempat beliau, beliau menjewer telingaku (secara halus) dan memanggilku dengan sebutan, ‘Wahai penghianat kecil’.”[14]

Jangan Manjakan Anak dan Menuruti Semua Kemauannya

Khaulah binti Hakim berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya anak itu bisa menjadi penyebab kikir, pengecut, bodoh, dan sedih.”[15] Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Gantungkanlah pecut di tempat yang bisa dilihat oleh keluarga kalian.”[16]

Jadi, di balik kecintaan dan kasih sayang orang tua kepada anaknya, Rasulullah tidak menginginkan adanya sikap memanjakan secara berlebihan dan memperturutkan semua keinginan anak. Sehingga sang anak nanti akan berbuat sesukanya dan menuruti semua yang diinginkannya, tanpa ada yang melarangnya.

Orang tua yang bersikap seperti ini sama dengan melakukan tindak kejahatan yang besar terhadap anaknya sendiri. Sikap memanjakan dan memberikan kasih sayang yang berlebihan ini mengakibatkan anak merasa tidak pernah ada yang melarang bila berbuat kesalahan serta sama sekali tidak pernah dibiasakan untuk taat kepada Allah dan memelihara batasan-batasan hukum-Nya.

Bahaya Bergaul dengan Anak Manja

Al Ghazali berkata, “Anak harus dijaga untuk tidak bergaul dengan teman-teman sebaya yang dibiasakan hidup senang, mewah, dan mengenakan pakaian-pakaian yang mahal. Karena, apabila anak dibiarkan seperti itu sejak usia dini, kebanyakan akan tumbuh menjadi anak yang berperangai buruk, pendusta, pendengki, suka mencuri, suka iseng, suka menipu, dan suka berbuat seenaknya. Tiada cara lain untuk menghindarkan anak dari hal-hal tersebut kecuali dengan memberikan pengajaran yang baik dan pendidikan yang menyeluruh.”[17]

Rasulullah Menjengung, Mendoakan Kesembuhan dan Mengobati Anak-anak yang Sakit

As Saib bin Yazid berkata, “Bibiku membawaku pergi menemui Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, keponakanku ini sedang sakit. Maka Rasulullah mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan bagiku dan beliau berwudhu lalu aku minum dari bekas air wudhunya. Setelah itu aku berdiri di belakang punggungnya dan kulihat cap kenabian ada di antara kedua pundaknya seperti telur burung puyuh.”[18]

Meluruskan Kekeliruan dengan Bijak

Rafi’ bin ‘Amru Al Ghifari mengatakan, “Dahulu aku dan anak muda sebayaku sering melempari pohon kurma milik orang-orang Anshar. Maka hal itu dilaporkan kepada Rasulullah, ‘Ada anak yang suka melempari pohon kurma kami.’ Akhirnya, aku dibawa menghadap Rasulullah dan beliau bertanya, ‘Nak, mengapa engkau melempari pohon kurma?’ Aku menjawab, ‘Untuk saya makan buahnya.’ Beliau bersabda, ‘Kamu jangan lagi melempari pohon kurma, tapi makanlah buahnya yang jatuh di bawahnya.’ Selanjutnya, beliau mengusap kepalaku seraya berdoa, ‘Ya Allah, kenyangkanlah perutnya’.”[19]

Membantu dan Mengajari Anak Bila Tidak Mampu Mengerjakan Sesuatu

Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Rasulullah berjumpa dengan seorang anak muda yang sedang menguliti kambing, maka beliau bersabda kepadanya, ‘Minggirlah, aku akan memperlihatkan cara yang benar kepadamu.’ Rasulullah pun memasukkan tangannya di antara kulit dan daging seraya memanjangkannya hingga tangannya masuk sampai ke bagian ketiaknya, lalu bersabda, ‘Hai anak muda, seperti inilah yang harus kamu lakukan bila menguliti kambing.’ Sesudah itu beliau berlalu dan shalat dengan orang banyak tanpa berwudhu lagi dan tidak menyentuh air.”[20]

Mengajari Cara Pengobatan Alami

Umar pernah menemui Rasulullah, sedangkan di dekat beliau terdapat seorang anak remaja berkulit hitam yang sedang memijit punggung beliau. Umar bertanya, “Apa yang terjadi?” Beliau menjawab, “Tadi malam aku terjatuh dari untaku.”[21] Terlihat bahwa Rasulullah mengajari anak remaja itu bagaimana cara memijat otot-otot beliau agar memperingan rasa sakit.

Bergaul dan Menceritakan Pengalaman Masa Kecil kepada Anak

Anas mengatakan, “Sesungguhnya, dahulu Rasulullah benar-benar bergaul dengan kami.”[22]

Rasulullah juga menceritakan kepada anak-anak tentang pengalaman kecil beliau. Beliau bersabda, “Aku pernah menghadiri perjanjian Muthayyibin bersama paman-pamanku saat aku masih remaja, dan aku tidak suka melanggar perjanjian itu meskipun diberi imbalan unta merah.”

Mengucapkan Salam kepada Anak-anak yang Sedang Bermain

Anas telah menceritakan bahwa pada suatu hari ia berjumpa dengan sejumlah anak-anak, lalu ia mengucapkan salam kepada mereka. Anas berkata, “Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah.”[23] Bagi para orang tua, buang rasa segan dan canggung untuk memulai mengucapkan salam terlebih dahulu kepada sekelompok anak. Demikian Rasulullah memberi teladan.

Mengajari Etika Masuk Rumah

Anas berkata, Rasulullah bersabda, “Hai anakku, jika kamu masuk ke dalam rumah keluargamu ucapkanlah salam, niscaya akan membawa berkah kepadamu dan juga bagi keluargamu.”[24]

Beliau bersabda kepada orang yang masuk ke tempat beliau tanpa mengucapkan salam lebih dahulu, “Kembalilah dan ucapkan, ‘Assalamu’alaikum, apakah aku boleh masuk?’” Mengucapkan salam merupakan latihan bagi mereka tentang adab-adab yang diajarkan oleh syariat. Dalam hal ini juga berfungsi sebagai penunduk sifat sombong, dan mengandung makna tawadhu dan kelembutan.[25]

Mengajarkan Anak Etika Meminta Izin

Anas sering masuk ke tempat Rasulullah tanpa izin. Pada suatu hari Anas datang dan hendak masuk begitu saja, maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Tetaplah di tempatmu wahai anakku, karena sesungguhnya telah terjadi suatu perintah berkenaan denganmu, maka jangan lagi kamu masuk kecuali dengan meminta izin terlebih dahulu.”[26]

Sahl bin Sa’ad berkata, “Seorang lelaki mengintip dari suatu lubang ke kamar Rasulullah yang saat itu beliau sedang memegang sisir untuk menggaruk kepada beliau. Ketika Rasulullah melihat kelakuan lelaki itu, beliau bersabda, “Seandainya sejak semula aku mengetahui kamu sedang mengintip, tentulah akan kutusuk matamu dengan ini. Meminta izin itu ditetapkan tiada lain hanyalah untuk kebolehan melihat.”[27]

Memotivasi Anak Menghadiri Perayaan dan Mengunjungi Kerabat

Anas berkata, “Rasulullah melihat anak-anak dan kaum wanita datang dari pesta perkawinan. Beliau pun berdiri tegak (dengan gembira), lalu bersabda, ‘Ya Allah (saksikanlah), kalian termasuk orang-orang yang paling kucintai’.” Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali, yang dimaksud adalah kaum Anshar.

Menjaga Perasaan Anak-anak dalam Perayaan

Aisyah meriwayatkan bahwa Abu Bakar masuk ke tempatnya saat ia bersama dua budak yang menyanyikan dan memukul rebana pada hari-hari mina. Sementara itu, Rasulullah sedang membentangkan (menjemur) baju beliau. Maka Abu Bakar membentak mereka berdua. Rasulullah pun melongokkan wajah dari balik baju yang dijemurnya dan bersabda, “Biarkanlah saja wahai Abu Bakar karena ini sedang hari raya.” Aisyah berkata, “Aku melihat Rasulullah menutup dirinya dariku dengan jubahnya sedangkan aku melihat orang-orang Habasyah yang sedang bermain saat aku masih kecil. Maka mereka menghormati kadudukan anak kecil.

Menganjurkan Anak Bergaul dengan Ulama dan Bersikap Santun Kepada Mereka

Rasulullah bersabda, “Sungguh, memuliakan orang Islam yang tua usia, orang yang pandai tentang Al Qur’an yang tidak sombong dan tidak mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil termasuk bagian dari mengagungkan Allah.”[28]

Rasulullah juga bersabda, “Tidak termasuk golonganku orang yang tidak belas kasih terhadap yang lebih muda dan tidak mau menghormati orang yang lebih tua serta tidak pula menghargai hak orang yang alim di antara kita.”[29]

Memberitahu Anak tentang Peperangan Kaum Muslim Menghadapi Musuh

Urwah menceritakan bahwa ayahnya, Zubair mempunyai beberapa bekas luka pada tubuhnya yang dialami sewaktu dalam peperangan badar. Urwah berkata, “Aku sering memasukkan jariku ke dalam bekas luka pukulan pedang yang sudah sembuh itu seraya memainkannya sewaktu aku masih kecil…”[30]

Memberitahu anak terhadap penindasan kaum muslim di berbagai belahan bumi oleh musuh-musuh Islam dapat menumbuhkan kepedulian terhadap nasib saudara seiman, sekaligus tanggungjawab apa yang harus mereka lakukan hari ini dan esok.

Mengingatkan Anak Agar Tidak Berteman dengan Orang Jahat

Rasulullah bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti orang yang membawa minyak misik dan pande besi. Pembawa minyak misik adakalanya memberikannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu peroleh bau yang harum darinya, tetapi pande besi adakalanya baju kamu akan terbakar oleh percikan apinya atau kamu peroleh bau yang tidak enak darinya.”[31]

Mengajari Etika Berbicara dan Menghormati yang Lebih Tua

Abdurrahman bin Sahl dan Huwayyishah bin Mas’ud datang menghadap kepada Rasulullah. Abdurrahman membuka pembicaraan, maka Rasulullah bersabda, “Hormatilah yang lebih tua! Hormatilah yang lebih tua!”[32]

Rasulullah sendiri apabila putrinya, Fatimah, masuk menemuinya, beliau bangkit menyambutnya dan menciumnya serta mendudukannya di tempat duduknya. Begitu pula sebaliknya, apabila beliau masuk menemuinya, ia bangkit menyambutnya dan menciumnya serta mempersilahkannya duduk di tempat duduknya.”[33]

Ketika Sa’ad bin Mu’adz hendak masuk ke masjid dan telah berada di dekatnya, Rasulullah bersabda kepada orang-orang Anshar, “Berdirilah kalian untuk menghormati pemimpin kalian atau orang yang terbaik di antara kalian.”[34]

Mendidik Anak untuk tidak Menjengkelkan Sesamanya

Rasulullah bersabda, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.”[35]

Al Ghazali mengatakan, “Hendaknya seorang anak tidak dibiarkan berbangga diri di depan teman-teman sebayanya dengan harta yang dimiliki oleh orang tuanya atau dengan sesuatu dari makanannya, pakaiannya, atau buku dan penanya. Akan tetapi, hendaklah anak dibiasakan bersikap rendah diri, menghormati setiap orang yang bergaul dengannya, dan lemah lembut tutur sapanya dengan mereka.”[36]

Memperingatkan Anak Agar Tidak Saling Mengancam Meski Bergurau

Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya, maka sungguh para malaikat melaknatnya sampai ia meninggalkan perbuatannya, meski yang diacungi itu saudara kandungnya.”[37] Para malaikat melaknat orang yang melakukan hal tersebut walaupun hanya bercanda.

Melarang Anak Mengejutkan Orang Lain Meski Bergurau

Abdurrahman bin Abu Laila mengatakan, “Para sahabat pernah menceritakan kepada kami bahwa ketika mereka sedang dalam perjalanan bersama Rasulullah dalam suatu misi, tiba-tiba seorang lelaki diantara mereka tidur. Salah seorang di antara mereka pun mengambil anak panahnya. Ketika lelaki itu terbangun, ia terkejut karena anak panahnya tidak ada dan orang-orang menertawakannya. Rasulullah bertanya, ‘Mengapa kalian tertawa?’ Mereka menjawab, ‘Tidak ada, melainkan kami telah mengambil anak panah orang ini, lalu ia terkejut.’ Rasulullah bersabda, ‘Seorang muslim tidak boleh menakut-nakuti saudaranya sesama muslim’.”[38]

Memberi Keringanan Kepada Anak

Anas bercerita, “Rasulullah adalah orang yang akhlaknya paling baik. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pergi.’ Namun, hatiku berbisik bahwa aku harus pergi karena ini adalah perintah Rasulullah. Akhirnya, aku berangkat hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tanpa sadar, ternyata Rasulullah memegang tengkukku dari belakang. Aku pun memandang beliau, sedangkan beliau tertawa. Beliau bersabda, ‘Wahai Anas kecil, apakah engkau telah pergi sesuai perintahku?’ Aku menjawab, ‘Ya, saya akan pergi wahai Rasulullah’.”[39]

Melarang Anak Lelaki Menyerupai Perempuan, dan Sebaliknya

Abdullah bin Yazid berkata, “Ketika kami sedang berada di rumah Abdullah bin Mas’ud, datanglah seorang anaknya yang mengenakan baju gamis dari kain sutera. Ibnu Mas’ud bertanya, ‘Siapa yang memberimu pakaian ini?’ Anaknya menjawab, ‘Ibuku.’ Ibnu Mas’ud pun merobek baju gamisnya dan berkata, ‘Katakanlah kepada ibumu agar dia memberimu pakaian selain kain sutera ini’.”[40]

Rasulullah bersabda, “Kaum lelaki dari umatku diharamkan mengenakan kain sutera dan emas, dan kaum wanitanya dihalalkan (mengenakan keduanya).”[41]

Melatih Anak Berpenampilan Sederhana dan Melatih Ketahanan Diri

Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang memakai sutera di dunia kecuali orang yang nanti di akhirat tidak mendapatkannya kecuali hanya sekian.” Beliau bersabda sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah.[42]

Dalam hal melatih ketahanan diri anak, Rasulullah sendiri pernah mengembala kambing. Beliau bersabda, “Tidaklah sekali-kali Allah mengutus seorang nabi, melainkan pernah mengembala kambing.” Para sahabat bertanya, “Dan juga engkau?” Beliau menjawab, “Ya, dahulu aku mengembala kambing milik penduduk Mekkah dengan imbalan beberapa qirath.”[43]

Rasulullah juga pernah melakukan perlombaan memanah, balap lari, balap kuda, dan balap unta. Beliau bersabda, “Tiada perlombaan kecuali memanah, balap kuda, atau balap unta.”[44]

Abul Ward meriwayatkan dari Ali yang menceritakan bahwa Fatimah menggiling gandum dengan tangannya sendiri hingga meninggalkan bekas pada tangannya, mengambil air sendiri dengan qirbah sehingga membekas pada lehernya, dan ia menyapu rumahnya sendiri hingga pakaiannya berdebu. Ketika Rasulullah mendapat banyak pelayan, Ali berkata, “Sebaiknya kamu datang menghadap kepada ayahmu untuk meminta seorang pelayan untuk meringankan pekerjaanmu.” Fatimah pun datang mengahadap kepada Rasulullah, tapi dia menjumpai di sisi beliau sedang banyak orang. Akhirnya Fatimah pulang.

Keesok harinya Fatimah datang lagi kepada Rasulullah dan beliau bertanya, “Apa keperluanmu?” Fatimah diam, sehingga terpaksa Ali yang berbicara tentang maksud kedatangannya. Maka Rasulullah bersabda, “Hai Fatimah, bertakwalah kapada Allah, tunaikanlah kewajiban Rabbmu dan lakukanlah pekerjaan rumah tanggamu. Apabila engkau hendak tidur, bertasbihlah sebanyak 33 kali, bertahmidlah sebanyak 33 kali, kemudian bertakbirlah sebanyak 34 kali. Itulah 100 wirid yang lebih baik bagimu dari pada mendapat seorang pelayan.”[45]

Memperlakukan Anak Perempuan dengan Baik dan Menjelaskan Kedudukannya Mereka dalam Islam

Rasulullah selalu menyambut dan mencium Fatimah ketika ia datang, menggandeng tangannya, mempersilahkan ia duduk di sebelah beliau. Rasulullah bersabda, “Barang siapa memeliki tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam mengasuh mereka, maka baginya surga.”[46]

Mengingatkan Orang yang Menelantarkan Nafkah dan Pendidikan Anak

Rasulullah bersabda, “Bila ia keluar karena berusaha mencari nafkah untuk anaknya yang masih kecil maka ia berada di jalan Allah. Bila ia keluar mencari nafkah untuk dirinya maka ia berada di jalan Allah. Dan bila ia keluar mencari nafkah karena ingin dilihat atau sebagai kebanggaan maka ia berada di jalan setan.”

Mengingatkan Agar Tidak Merendahkan Orang Lain

Aisyah berkata, “Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ‘Cukuplah sikapmu terhadap Shafiyyah karena dia begini dan begini’. Maka Rasulullah bersabda, ‘Sungguh, engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat itu dicampukan dengan air laut, niscaya akan mencemarinya’.”[47]

Sumber:

Syeih Jamal Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul “Athfalul Muslimin Kaifa Robaahumun Nabiyyul Amin Saw” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Agus Suwandi dengan Judul  “Islamic Parenting, Pendidikan Anak Metode Nabi” Solo: Aqwam, 2010

[1] Shahih, Adabul Mufrad, 566

[2] Bukhari, Kitab Tamani, 6698

[3] Abu Dawud, Kitab Adab, 4383

[4] Shahih Sunan Abu Dawud, 466 dan Ahmad, 6467

[5] Muttafaq Alaih.

[6] Shahih Adabil Mufrad, 121

[7] Muslim, Kitab Fadhail, 4296

[8] Muttafaq Alaih.

[9] Shahih Al Jami’, 6021

[10] Tuhfatul Ahwadzi: VI, 67

[11] Ahkamul Quran: III, 322

[12] Muslim, Kitab Birri wash Shilah, 4729

[13] Bukhari, Kitab Adab, 5651

[14] Musnad Asy Syamiyyin: II, 355

[15] Shahih Al Jami’, 1990

[16] Shahih Al Jami’, 4021

[17] Ihya ‘Ulumuddin, III

[18] Muttafaq Alaih.

[19] Az Zar’i, Hasyiyah Ibnu Qayyim, dishahihkan At Tirmizi.

[20] Shahih Ibnu Hibban: III, 1163 dan Shahih Abu Dawud, 3239

[21] Lihat Ibnu Atsir, An Nihayah bab Qahama

[22] Bukhari, Kitab Adab, 5664

[23] Bukhari, Kitab Isti’dzan, 5778

[24] Tirmizi, Kitab Adab wal Isti’dzan, 2622

[25] Fathul Bari’, Kitab Isti’dzan, XI

[26] Bukhari, Adabul Mufrad, 807

[27] Muttafaq Alaih.

[28] Shahih Al Jami’, 2199

[29] Ahmad, Musnad Anshar, 21693

[30] Bukhari, Kitab Maghazi, 3678

[31] Muttafaq Alaih.

[32] Muttafaq Alaih.

[33] Ibnu Abdil Bar, At Tamhid: XXIII, 204

[34] Muttafaq Alaih.

[35] Shahih Al Jami’, 5505

[36] Ihya ‘Ulumuddin.

[37] Muslim, Kitab Birri  wash Shilah, 4741

[38] Shahih, Musnad Ahmad, 22959

[39] Telah ditakhrij sebelumnya.

[40] Majma’uz Zawaid: V, 144

[41] At Turmidzi, Kitab Libas, 1742

[42] Tahqiq Musnad Ahmad, 243

[43] Bukhari, 2102

[44] Shahih Sunan Ibnu Majah, 2787

[45] Muttafaq Alaih.

[46] At Turmidzi, Kitab Barri wash Shilah, 1839 dan Abu Dawud, Kitab Adab, 4481


[47] Ahmad, Kitab Adab, 4232

Subscribe to this Blog via Email :